Kolaborasi Tekfin dan Bank Ciptakan Kesempatan untuk Tumbuhkan Pasar

Jakarta, 25 Januari 2018 – Ketua Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH), Niki Luhur, menjadi salah satu narasumber dalam Workshop on Financial Technology: The Future of Fintech in Indonesia. Acara ini merupakan lanjutan rangkaian workshop yang digelar oleh Badan Kebijakan Fiskal – Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan, yang dibuka pada tanggal 24 Januari 2018. Sebanyak 30 pegawai Kementerian Keuangan menghadiri acara yang bertujuan untuk memberikan wawasan terkait industri teknologi finansial (tekfin) serta praktik-praktiknya, baik secara nasional maupun internasional.Pada kesempatan tersebut, Niki memberikan paparan mengenai Agenda Kolaborasi Fintech dan Bank, salah satu isu yang sedang hangat dibicarakan dalam industri start-up dan lembaga keuangan. Beliau mengawali dengan menjelaskan mengenai fundamental perusahaan teknologi keuangan.  Pada dasarnya, DNA perusahaan tekfin sangat berbeda dengan sebagian besar perusahaan teknologi mengingat minimal kelayakan produk yang dihasilkan harus memenuhi standar produk yang kuat untuk dapat memberikan layanan transaksi keuangan yang aman. Ketika terjadi pelanggaran, perusahaan tekfin dapat menghadapi beberapa risiko seperti kehilangan konsumen dengan cepat, sampai penutupan usaha, sehingga prinsip kehati-hatian merupakan salah satu fokus yang diprioritaskan.Niki juga menjelaskan betapa pentingnya regulasi yang jelas dan tegas untuk pertumbuhan industri tekfin. Sejalan dengan visinya, Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) dibentuk karena inisiatif bersama dari pelaku usaha tekfin untuk mewujudkan ekosistem tekfin Indonesia, salah satunya lewat implementasi regulasi yang dapat mendorong pertumbuhan industri tekfin. Dalam hal keamanan data, AFTECH mengusulkan regulasi keamanan dan privasi data yang kuat, dimana regulasi yang jelas merupakan hal yang penting apabila perusahaan tekfin ingin menjalankan usaha yang sah yang dapat berkembang dengan lebih maju serta mendapatkan investasi dana yang dibutuhkan.Lebih jauh Niki menjelaskan bahwa pelaku usaha tekfin di Indonesia berusaha berkolaborasi dengan institusi keuangan, dan mempunyai kesempatan untuk menumbuhkan pasar bersama dan membuka area keuangan yang belum tersentuh sebelumnya. “Our motivation is simple. We want to scale up. Right now, the size of the market is too small. This is the underlying issue, not fintech fighting with the banks. It’s about growing the market” ujarnya. Baik tekfin maupun bank masing-masing mempunyai keahliannya. Tekfin dapat mengembangkan teknologi yang dapat memudahkan transaksi dan pengawasan keuangan, suatu keahlian yang tidak dimiliki oleh bank. Pada praktiknya, pelaku usaha tekfin sama sekali tidak menyentuh uang, melainkan hanya mengirimkan data dan membuat data tersebut berpindah dengan jauh lebih efisien, serta membuat infrastruktur yang lebih murah.Sementara di satu sisi, tekfin tidak akan menggantikan peran bank, karena tekfin justru bergantung pada bank pada prosesnya. Fintech dan bank memiliki model bisnis yang berbeda, namun saling melengkapi. Ketika perusahaan tekfin mengakselerasi sistem pembayaran, banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh pihak bank dan konsumen sebagai pengguna layanan jasa keuangan. Bank pun dapat meminjamkan lebih sedikit uang tunai dan menjangkau lebih banyak nasabah.Hal ini yang menjadi motivasi dari AFTECH, yaitu mendorong inklusi keuangan. Saat ini, bank dan pelaku pasar keuangan hanya melayani bagian atas dari piramida padahal setiap statistik ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia dibangun dari usaha skala kecil dan menengah. Akan tetapi, tidak terdapat akses untuk membiayai usaha tersebut. “We believe by lifting the bottom of the pyramid and including them, we will create a much bigger market for everyone and the most importantly when you give SMEs financing they will grow,” tutup Niki.

Tags:

Date

Feb 15 2018

Time

8:00 am - 6:00 pm

Add a Comment

Your email address will not be published.