EDITORIAL 04 Apr 2017

Meningkatkan Minat Investasi Melalui Peer-to-Peer Lending

oleh: Benedicto Haryono, Anggota Asosiasi FinTech Indonesia dan Co-Founder KoinWorks

Mayoritas masyarakat Indonesia masih cenderung takut untuk berinvestasi. Mereka lebih memilih untuk menabung di deposito ketimbang berinvestasi[1]. Hal ini terbukti dari fakta sekitar 60 juta penduduk yang memiliki rekening tabungan di Indonesia, baru terdapat 3,8 juta rekening deposito (Januari 2017), dan 1 juta akun investor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, proporsi investor lokal di Indonesia merupakan salah satu yang paling rendah.

Terdapat tiga alasan utama penyebab masyarakat Indonesia enggan berinvestasi, yaitu tidak mengerti tujuan berinvestasi; tidak memiliki uang lebih dari penghasilan; serta belum bisa membedakan antara investasi dengan menabung[2]

Rendahnya minat investasi masyarakat Indonesia juga dipengaruhi minimnya pengetahuan mengenai instrumen investasi, terutama yang berkaitan dengan pasar modal. Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi dasar mengenai pentingnya investasi dan jenis instrumen investasi yang tersedia, sehingga memudahkan dalam memilih investasi yang cocok, baik dari segi keuntungan maupun risiko.

 

P2P Lending sebagai Awal Berinvestasi

Fintech dengan skema peer-to-peer (p2p) lending dapat menjadi media awal berinvestasi yang patut dicoba dengan kelebihan akses layanan yang semakin mudah dan nilai yang terjangkau. Masyarakat pun dapat belajar dasar-dasar investasi melalui kegiatan ini.

Perusahaan p2p lending menyediakan platform teknologi yang terintegrasi secara digital, dimana masyarakat yang memiliki sejumlah modal dapat menyalurkannya dalam bentuk investasi kepada peminjam.

Salah satu faktor yang membuat investasi di p2p lending menarik adalah imbal balik yang kompetitif dengan tingkat volatilitas yang lebih rendah. Normalnya, tingkat imbal balik dan risiko p2p lending berada di antara saham dan obligasi negara. Tahun 2016, tingkat imbal balik (net) yang dihasilkan oleh 4 perusahaan p2p lending di tanah air (KoinWorks, Investree, Modalku & Amartha) berkisar antara 17 persen sampai 20 persen. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat ROI Indeks Saham Gabungan di 2016.

Berinvestasi lewat p2p lending juga relatif lebih murah dan terjangkau bagi masyarakat. Nominal investasi bervariasi antara Rp 100.000 sampai dengan Rp 1.000.000, dan seringkali tanpa keharusan untuk memelihara portofolio pada nilai minimum tertentu, serta tidak adanya minimum fee.

Keuntungan lain adalah kemudahan dalam mengelola aktivitas investasi. Investor memiliki keleluasaan untuk berinvestasi secara pasif maupun aktif. Jika investor memilih untuk lebih pasif, p2p lending menyediakan fitur investasi otomatis (auto invest) sesuai dengan preferensi, sehingga investor tidak perlu berpartisipasi dalam setiap kegiatan peminjaman dana secara manual. Investor dapat mengakses investasi secara berkala saja untuk memonitor portofolio mereka.

Platform p2p lending juga membantu melakukan analisa resiko, sehingga investor hanya perlu memperhatikan dua hal; pertama, memilih jenis peminjaman dana dengan profil yang sesuai dengan tingkat toleransi risiko dan imbal hasil yang diinginkan. Semakin tinggi tingkat risiko investasi, semakin tinggi pula keuntungan yang dapat diperoleh. Risk vs return adalah prinsip yang mutlak di dunia investasi.

Kedua adalah diversifikasi. Platform p2p lending aktif mengedukasi investor untuk menyebar portfolio di berbagai pendanaan industri yang berbeda. Investor disarankan untuk berpartisipasi di minimum 20 pinjaman, meski dengan jumlah investasi yang minim dalam portofolio yang terdiversifikasi ini.

Investor juga akan belajar mengenai analisa keuangan dan kebiasaan berinvestasi. Mayoritas perusahaan p2p lending menyertakan nilai peringkat risiko atas suatu pinjaman, serta fact sheet yang berisi ringkasan informasi mengenai usaha, keuangan, serta data pengembalian pinjaman setiap peminjam. Berbekal informasi ini, investor dapat mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat risiko suatu usaha.

Berhubung pengembalian uang pinjaman terjadi setiap bulan, platform p2p lending memberi notifikasi kepada investor untuk aktif menginvestasikan kembali uang pengembalian tersebut. Jika tidak dilakukan, akan terdapat dana yang tidak produktif sehingga imbal balik yang didapat menjadi lebih rendah. Pada kasus yang ekstrim, imbal balik yang diterima investor dapat berkurang menjadi setengah dari potensi yang sebenarnya. Dengan melakukan ini, investor bisa mulai mengapresiasi efek compounding (prinsip bunga berbunga), yang dampaknya sangat signifikan setelah beberapa tahun.

Berinvestasi lewat p2p lending secara perlahan akan membantu masyarakat memahami dasar fundamental dalam berinvestasi. Masyarakat akan terbiasa berinvestasi dan selanjutnya meningkatkan pilihan ke instrumen investasi lain, seperti saham, reksadana, obligasi. Selain menguntungkan berkat imbal balik yang kompetitif, fintech dengan skema p2p lending terbukti membantu masyarakat dalam hal permodalan bisnis. Pada akhirnya berinvestasi akan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih merata.

 

[1] Masyarakat Indonesia Masih Takut Investasi di Pasar Modal, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/06/10/150500126/Masyarakat.Indonesia.Masih.Takut.Investasi.di.Pasar.Modal diakses pada tanggal 22 Maret 2017 pukul 11:35 WIB.

[2] Ini Tiga Alasan Masyarakat Indonesia Ogah Investasi Reksa Dana, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/04/24/130932226/Ini.Tiga.Alasan.Masyarakat.Indonesia.Ogah.Investasi.Reksa.Dana diakses pada tanggal 22 Maret 2017 pukul 12:23 WIB.

Source: FinTech Talk 19, 4 April 2017

Next: Siaran Pers - Pelaku Usaha Desak Keseriusan OJK untuk Tindak Lanjut Koordinasi Aturan Layanan P2P Lending