EDITORIAL 11 Jul 2017

Fintech dalam E-commerce: Motor Pendorong Pemerataan Ekonomi secara Digital

oleh: William Tanuwijaya, Anggota Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan Co-Founder dan CEO Tokopedia

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menyimpan sejuta potensi, namun memiliki masalah dalam hal pemerataan kesempatan. Pada umumnya, masyarakat di kota kecil terdorong untuk pindah ke kota besar demi peluang dan akses pasar yang lebih besar. Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di pelosok justru harus membayar harga yang lebih mahal untuk sebuah produk yang sama di kota besar.

Hadirnya teknologi internet menjadi solusi untuk permasalahan kesenjangan pemerataan ini. Jika satu dekade lalu, daftar 10 situs paling sering dikunjungi di Indonesia[1] hanya diisi oleh situs pencari informasi dan komunikasi, kini dalam daftar tersebut muncul beberapa situs platform untuk bertransaksi. Ini menjadi fakta bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai bertransaksi secara online.

Tahun lalu, kontribusi transaksi e-commerce dari keseluruhan ritel Indonesia berhasil menembus angka 1%. Artinya 1 dari 100 transaksi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, sudah dilakukan secara online.

 

Bola Kristal, Efek Mesin Waktu dan Leapfrog

Penetrasi e-commerce 1% dari total seluruh jenis ritel ini merupakan sebuah milestone yang penting bagi pasar kita. Seperti sebuah bola kristal yang bisa memprediksi masa depan, masa depan Indonesia diprediksi hampir sama dengan Cina yang lebih dulu mencapai angka penetrasi tersebut di tahun 2008. Saat itu, PDB per kapita Cina menembus US$ 3.471 (data World Bank[2]), sementara Indonesia baru berhasil menyentuh $3.570 di tahun 2016.

Cina hanya membutuhkan waktu 5 tahun untuk menembus penetrasi e-commerce 10% - atau satu dari sepuluh transaksi merupakan transaksi online. Hal ini menarik, dan menimbulkan pertanyaan, apakah akan ada efek mesin waktu, dimana Indonesia mengikuti tren yang sama dalam 5 tahun ke depan?

Terlebih mengingat ada dua hal yang telah dimiliki Indonesia pada 2016, yang tidak dimiliki Cina pada 2008. Pertama, koneksi internet 3G dan 4G yang semakin terjangkau, baik secara harga maupun jaringan. Kedua, begitu banyaknya smartphone yang semakin terjangkau (di bawah 1 juta rupiah). Kedua faktor ini telah membawa Indonesia sebagai negara yang sangat dominan sebagai pengguna jejaring media sosial dan aplikasi chatting di dunia.

Semua ini mengarah pada potensi Indonesia untuk melakukan leapfrog dan mampu mencapai penetrasi sebesar 10% - bahkan sebelum 5 tahun, terlebih mengingat transaksi online akan benar-benar mendorong pemerataan ekonomi di seluruh pelosok Indonesia.

 

Faktor Penghambat dan Tekfin sebagai Solusi

Menurut Kominfo, saat ini sudah terdaftar lebih dari 350 juta SIM card aktif, angka yang melebihi jumlah 250 juta penduduk Indonesia. Namun hanya terdapat sekitar 70 juta rekening bank di Indonesia. Artinya, tidak semua pengguna internet memiliki kemampuan untuk bertransaksi dan membayar secara online karena ketiadaan rekening bank tersebut Ini merupakan penghambat dalam mencapai potensi leapfrog tersebut.

Ini merupakan pekerjaan rumah dan tanggung jawab para pemangku kepentingan industri, untuk mendorong lebih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening bank untuk dapat bertransaksi secara online. Perusahaan-perusahaan e-commerce, termasuk Tokopedia, terus berusaha menggandeng mitra pembayaran, baik perbankan, minimarket, toko ritel, hingga kurir logistik, untuk menyediakan sebanyak mungkin opsi pembayaran. Bekerjasama dengan pihak perbankan, perusahaan juga membuka kesempatan kepada penggunanya untuk melakukan aplikasi kartu kredit secara online dengan mudah dan cepat.

 

Tekfin sebagai Pendorong Tumbuhnya Brand Lokal

Terdapat dua tipe pedagang online, pertama adalah para trader, yang memperdagangkan barang yang tidak mereka produksi. Kedua adalah para maker, yang memperdagangkan barang yang mereka produksi. Para maker ini adalah cikal bakal lahirnya brand Indonesia masa depan.

Karena para maker harus memproduksi barang sendiri, kemampuan menerima pesanan pun menjadi terbatas sesuai dengan kemampuan produksi. Muncul pola dimana ketika bisnis meningkat dengan pesat, seringkali mereka harus menolak pesanan yang masuk karena keterbatasan produksi. Solusinya tentunya dengan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan baru, dan memasok lebih banyak bahan baku, yang sayangnya membutuhkan modal kerja tambahan. Sebagian di antara mereka memulai bisnis pertama mereka secara online, secara rumahan, sehingga tidak memiliki rekam jejak dan jaminan yang bisa dipakai untuk mengakses modal kerja tambahan.

Menyadari keterbatasan tersebut, perusahaan e-commerce berkolaborasi dengan bank dan perusahaan tekfin untuk membangun marketplace finansial, dimana para pedagang online bisa mengakses aplikasi pinjaman modal kerja secara online. Dengan adanya rekam jejak pertumbuhan bisnis online, mereka kini dapat memiliki akses ke pinjaman modal kerja yang dulunya tidak dapat dinikmati.

Implementasi tekfin dalam e-commerce menjadi bagian dari solusi masalah ekonomi. Layaknya seperti membangun sebuah kota, tidak semua infrastruktur harus dibangun sendiri. Seperti halnya Tokopedia, e-commerce justru menghubungkan semua lapisan masyarakat Indonesia dengan ekosistem yang terdiri dari lembaga keuangan, logistik, minimarket, UKM, brand, perusahaan utilitas, start-up tekfin, serta pemerintah dalam menuntaskan pekerjaan rumah bersama - melakukan pemerataan ekonomi secara digital.

 

 

Source: FinTech Talk 32, 11 Juli 2017

Next: Analisis Data dalam Tekfin