EDITORIAL 07 Sep 2017

Tekfin sebagai Daya Ungkit Usaha Ultra Mikro

oleh: Riko Depari, Anggota Asosiasi FinTech Indonesia dan Managing Director HaloMoney.co.id

Pemerintah Indonesia bertekad untuk menjadikan pemerataan ekonomi sebagai fokus utama pembangunan. Komitmen ini salah satunya diwujudkan melalui penguatan akses rakyat dalam mendapatkan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah bahkan telah memberikan subsidi bunga untuk KUR serta mengalokasikan anggaran bagi usaha ultra mikro sebesar Rp2,5 triliun demi mendukung kemandirian usaha rakyat.

KUR diyakini berpotensi besar untuk mengakselerasi perekonomian nasional. Berbeda dari kredit mikro yang membandrol bunga hingga 18 persen per tahun, bunga KUR hanya sekitar 9 persen per tahun. Tahun depan bahkan bunganya akan turun lagi menjadi 7 persen. Sementara kredit macet atau non performing loan (NPL) terbukti hanya mencapai 0,37 persen.

Namun demikian, belakangan ini penyaluran KUR selalu di bawah target. Data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) menunjukkan bahwa realisasi penyaluran KUR baru mencapai Rp 94,4 triliun atau 94,4 persen dari target penyaluran sebesar Rp 100 triliun di tahun 2016. Sementara pada tahun 2017 ini, pemerintah menaikkan target penyaluran KUR menjadi sebesar Rp 110 triliun.

 

Tantangan Penyaluran KUR

Gubernur Bank Indonesia (BI) akhir tahun lalu menyatakan bahwa penyaluran KUR masih banyak ditujukan untuk nasabah lama perbankan. Wajar jika bank ingin mengurangi risiko dan biaya, konsekuensinya adalah menyalurkan kredit lagi-lagi kepada nasabah lama. Regulasi perbankan pun membuatnya sulit bergerak lebih gesit dalam menjangkau kelompok UKM baru. Padahal, pemerintah berharap KUR bisa menjaring nasabah baru sehingga bisa memunculkan pengusaha-pengusaha UKM baru. Dengan demikian, perekonomian pun dapat bergulir lebih cepat.

Saat ini, perbankan masih menjadi penyalur utama KUR, dimana Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi penyalur terbesar dengan nilai total Rp 69,4 triliun, menyusul Bank Mandiri yang menyalurkan Rp 13,3 triliun, Bank Negara Indonesia (BNI) menyalurkan Rp 10,3 triliun dan sisanya didistribusikan oleh bank pembangunan daerah (BPD).

Sekitar 40 persen KUR dialokasikan untuk sektor produksi, diantaranya pertanian, kehutanan dan perikanan. Sisanya disalurkan ke sektor perdagangan besar dan eceran. Masih lebih kecilnya penyaluran KUR pada sektor produksi disebabkan karena tingginya faktor risiko, sehingga penyalur KUR kerap sulit untuk memberikan pinjaman. Lebih jauh, banyak dari mereka tidak bisa melakukan pinjaman karena tidak memiliki jaminan.

 

KUR dan Inovasi Layanan

Layanan tekfin dapat menjadi salah satu solusi bagi penyaluran KUR. Ruang lingkup tekfin yang tidak mengenal batasan ruang dan waktu, mengingat proses penawaran dilakukan secara digital, dapat membantu penyalur KUR untuk menyentuh pasar UKM yang belum bankable dengan lebih mudah dan efisien.

Ini karena layanan tekfin didukung digital marketing yang dapat memasarkan produk keuangan, termasuk KUR, sesuai dengan target sasaran yang diinginkan. Selain itu, layanan tekfin juga memiliki pengembangan sistem informasi teknologi (IT) yang begitu canggih dan ramah pengguna sehingga memungkinkan proses pengumpulan data (data capture), know-your-customer (KYC) dan automation untuk mengunggah dokumen penunjang maupun tanda tangan elektronik (digital signature) secara lebih mudah dan cepat.

Kolaborasi antara perbankan dengan tekfin telah sering digaungkan, baik oleh pelaku usaha maupun regulator. Program KUR dapat menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi ini dimana bank penyalur dapat bekerjasama dengan pelaku usaha tekfin yang bergerak di layanan pembiayaan (lending), maupun yang memfasilitasi pembandingan produk-produk keuangan, atau pun agregator untuk menyentuh pasar baru yang diharapkan oleh pemerintah. Agar dapat berjalan tanpa hambatan, kerjasama ini pun harus didukung oleh pemerintah dan regulator, baik OJK maupun BI.

Jika berhasil berjalan, penyaluran KUR melalui layanan tekfin bisa dianggap sebagai terobosan baru bagi pemerintah untuk mengatasi kondisi perekonomian yang belakangan ini banyak dikeluhkan lesu.

 

Potensi Tekfin dalam Layanan Kredit Lainnya

Dengan kemampuan merambah berbagai sektor dan segmen nasabah, tekfin memiliki potensi besar dalam mendukung layanan penyaluran kredit di Indonesia. Hal ini terbukti dari semakin berkembangnya usaha tekfin di layanan pembiayaan dengan berbagai skema mulai dari peer to peer lending hingga crowdfunding.

Ada pula pelaku usaha tekfin yang menyediakan fasilitas standby loan atau revolving kredit yang berfungsi layaknya kartu kredit sebagai alat pembayaran resmi dan sah untuk mendukung transaksi pembelian online dan di marketplace. Bunga yang diberikan sama dengan bunga kartu kredit, dengan kemudahan mencicil hingga 12-bulan dari tanggal pembelian.

Bagi nasabah yang ingin leluasa dalam mencari produk keuangan terbaik, seperti kartu kredit, kredit tanpa agunan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), asuransi, kredit kendaraan bermotor bahkan produk investasi, bisa mengunjungi situs-situs pembanding (comparison website) yang memberikan berbagai tips untuk memilih produk yang sesuai dengan profil dan kebutuhan nasabah. 

Inovasi-inovasi layanan tekfin ini, diharapkan dapat mendukung tekad pemerintah untuk membuka akses kepada masyarakat secara lebih luas.  

Source: FinTech Talk 40, 5 September 2017

Next: Tekfin dan Revolusi Sektor Pariwisata