EDITORIAL 21 Nov 2017

Mitos Bank vs FinTech: Kolaborasi, Bukan Kompetisi, untuk Inklusi Keuangan Indonesia

oleh: Reynold Wijaya, Koordinator Satgas P2P Lending Asosiasi FinTech Indonesia dan CEO & Co-Founder Modalku

Industri teknologi finansial (tekfin) layanan peer-to-peer (p2p) lending di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan awal tahun lalu. Otoritas Jasa Keuangan melaporkan saat ini sedikitnya terdapat sekitar 85 perusahaan p2p lending yang beroperasi di seluruh Indonesia dengan penyaluran kredit sebesar Rp 1,6 triliun pada kuartal ke-3/2017 atau naik lebih dari 600% YoY.

Tekfin, bersinergi dengan perbankan, sesungguhnya menjadi kunci bagi inklusi keuangan untuk penguatan ekonomi nasional. Model bisnis platform p2p lending seperti misalnya Modalku, tidak sama dengan perbankan dan keduanya hanya memiliki kesamaan produk yang terbatas – namun demikian sejatinya saling melengkapi. Perkembangan teknologi, seperti artificial intelligence dan automation, dapat menghilangkan sebagian pekerjaan yang dahulu dilakukan secara konvensional terlepas dari keberadaan tekfin, bukan berarti layanan tekfin kemudian akan menggerus bank.

Ilustrasi di bawah menjelaskan konsentrasi segmen target yang berbeda antara layanan p2p lending dan perbankan:

Fokus sasaran layanan p2p lending adalah segmen usaha kecil-menengah (UKM) yang memiliki kapasitas untuk berkembang namun kurang pendanaan dan belum layak untuk mendapatkan kredit bank. p2p lending berperan sebagai jembatan bagi kelompok ini untuk bertumbuh. Semakin banyak nasabah p2p lending yang lulus dari tahap creditworthy ke bankworthy, maka segmen perbankan pun otomatis akan tumbuh.

Contoh baik sinergi perbankan dan tekfin dapat dilihat di Cina di mana sektor perbankan dan industri tekfin p2p lending-nya berkembang bersama. Layanan p2p lending di negara ini dilaporkan tumbuh pesat antara periode 2011-2016 dan di saat yang bersamaan kredit perbankan pun tumbuh dua kali lipat.

Layanan Serupa Tapi Tak Sama

Meski perbankan dan p2p lending selintas tampak menawarkan layanan yang sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Pertama; suku bunga. Layanan p2p lending yang umumnya menawarkan pinjaman tanpa agunan dan menyasar segmen yang lebih berisiko, secara natural akan menawarkan suku bunga yang lebih tinggi. Oleh sebab itu segmen yang sudah bankable umumnya akan memilih pinjaman dari bank ketimbang dari platform ini.

Kedua; periode tenor pengembalian pinjaman. Layanan p2p lending di Indonesia biasanya menerapkan tenor yang relatif pendek sekitar 1 hingga 24 bulan, karena tenor yang panjang akan mengurangi minat pemberi pinjaman dan menambah risiko pinjaman tanpa agunan. Sebaliknya, perbankan lebih suka menawarkan tenor panjang untuk mengoptimalkan net interest margins.

Ketiga; besarnya jumlah pinjaman. Layanan p2p lending nyaris tidak mungkin memberikan pinjaman dengan jumlah yang sangat besar misalnya puluhan atau ratusan miliar. Diperlukan begitu banyak pemberi pinjaman sehingga dapat menunda pencairan pinjaman. Sebaliknya, kekuatan perbankan untuk memberikan pinjaman dengan nilai tinggi tidak diragukan lagi dan dapat dilakukan secara cepat dan murah sehingga tidak mungkin p2p lending dapat bersaing dengan ini.

Perbedaan-perbedaan di atas menunjukkan bahwa persepsi adanya persaingan sengit antara perbankan dan p2p lending adalah salah. Kedua industri ini justru komplementer bila berkolaborasi. Sinergi tekfin dan bank dapat dibandingkan dengan low cost airlines dan full service airlines yang jelas melayani segmen pasar yang berbeda, namun keduanya bertumbuh beriringan dan memajukan perekonomian Indonesia

 

Sinergi untuk Ciptakan Layanan Keuangan yang Holistik

Sinergi perbankan dan tekfin menjadi mutlak untuk memastikan layanan keuangan di Indonesia dapat tumbuh dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai bentuk kerja sama dapat dilakukan antara kedua industri. Modalku, contohnya, terlah berhasil menjalin kerjasama dengan Bank Sinarmas yang sangat mendukung inovasi dan tekfin. Melalui kerjasama semacam ini, perbankan dapat turut menyalurkan pembiayaan kepada para UKM melalui platform tekfin atau menjadi kustodian dan pemegang dana pemberi pinjaman yang sekaligus menjamin keamanan dan transparansi.

Tanpa tekfin, layanan keuangan Indonesia akan berada pada “status quo”. Bila Indonesia ingin melaju dalam ekonomi dunia, maka pemanfaatan kemajuan teknologi perlu menjadi fokus dalam menciptakan ekosistem finansial yang lebih lebih kompetitif dan progresif.

Saat ini, industri tekfin dihadapkan pada kondisi kritis untuk dapat menjaga momentum karena perkembangan tekfin di Indonesia masih di tahap awal. Untuk itu, industri tekfin juga membutuhkan dukungan masyarakat, pemerintah, serta industri keuangan nasional untuk dapat berperan dalam perekonomian negara.

Pelaku usaha tekfin yang tergabung dalam AFTECH bersikap pro-regulasi karena menyadari pentingnya regulasi untuk menjaga pertumbuhan inovasi yang sehat. Kami mengapresiasi kerja regulator untuk mendukung kemajuan tekfin, salah satunya melalui peraturan terkait tata laksana p2p lending di Indonesia yang baru-baru ini ditetapkan dan seterusnya akan disempurnakan. Sebaliknya, seluruh pelaku usaha yang tergabung dalam AFTECH juga bekomitmen untuk memantau dan memberikan masukan kepada pembuat kebijakan untuk memastikan produk hukum yang ditetapkan tidak menghambat inovasi dalam mewujudkan aspirasi akan inklusi keuangan di tanah air.

Source: FinTech Talk 51, 21 November 2017

Next: Membumikan Regulatory Sandbox