
Tren penggunaan layanan keuangan digital di kalangan mahasiswa terus menunjukkan peningkatan. Namun, di balik tingginya adopsi tersebut, masih terdapat tantangan dalam hal literasi dan pemahaman risiko.
Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) kembali menggelar program edukasi Indonesia Fintech Youth Community (INFINITY) Goes to Campus chapter Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah. Program ini telah menjadi bagian dari upaya berkelanjutan AFTECH dalam meningkatkan literasi keuangan digital di kalangan mahasiswa.
Kegiatan ini didukung oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah, serta INDODAX dan Izi Data Indonesia.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK, tingkat inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 92,74%, sementara tingkat literasinya masih berada di angka 66,46%.
Kesenjangan ini dinilai semakin relevan di kalangan mahasiswa yang kini aktif menggunakan berbagai layanan fintech dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari transaksi digital hingga investasi.
Di tingkat lokal, fenomena serupa juga terjadi di Kota Surakarta. Penggunaan fintech di kalangan mahasiswa juga terus meningkat, namun diiringi risiko seperti penggunaan paylater yang tidak terkontrol, kurangnya literasi tentang perencanaan keuangan, hingga penggunaan terhadap fintech yang ilegal.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyampaikan bahwa program INFINITY ini dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan yang lebih relevan bagi mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa merupakan salah satu kelompok dengan tingkat adopsi fintech tertinggi, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek pengelolaan keuangan dan manajemen risiko.
“Kami ingin mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga agen perubahan dalam ekosistem fintech Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara regulator, industri, dan institusi pendidikan untuk menciptakan ekosistem keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan.
Dari sisi pelaku industri, edukasi tidak hanya berhenti pada penggunaan, tetapi juga tentang pemahaman risiko.
Perwakilan INDODAX menyoroti bahwa mahasiswa kini mulai aktif dengan investasi, termasuk pada aset kripto. Namun, masih diperlukan pemahaman yang lebih dalam terkait volatilitas pasar dan strategi investasi jangka panjang.
Sementara itu, IziData Indonesia menekankan pentingnya kesadaran terhadap rekam jejak keuangan. Setiap keputusan layanan finansial, termasuk penggunaan layanan paylater dan pinjaman digital, akan memengaruhi profil risiko di masa depan.
Melalui program INFINITY, AFTECH berharap dapat mendorong mahasiswa untuk lebih bijak dalam memanfaatkan layanan fintech, sekaligus meningkatkan kualitas literasi keuangan digital di Indonesia.
Dengan pendekatan kolaboratif dan edukatif, program ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat dalam mengambil keputusan keuangan.
Meningkatnya adopsi fintech di kalangan mahasiswa menjadi peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Tanpa literasi yang memadai, kemudahan akses fintech dapat berujung pada risiko.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, seperti program INFINITY ini, langkah menuju ekosistem keuangan digital yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan semakin nyata.